KPU Goes to Pesantren

Perjalanan sosialisasi KPU DIY terkait Pilkada 2020 telah sampai di STAI Sunan Pandanaran, mereka bersama-sama melaksanakan diskusi yang bertema “Kaum Santri Menyambut Pilkada Serentak 2020” hari Sabtu, 28 Desember 2019 di ruang multi purpose STAI Sunan Pandanaran. Diskusi yang dihadiri oleh dua narasumber yaitu KH. Jazilus Sakhok Ph.D. sebagai wakil STAI Sunan Pandanaran dan Ahmad Sidqi M.Hum. sebagai anggota KPU DIY. Adapun acara diskusi hangat ini dimoderatori oleh Dea Riski Khiarotunnisa (mahasiswa PGMI 5 STAI Sunan Pandanaran).

Sambutan perwakilan KPU DIY diwakili oleh Bapak Dewo, beliau menyampaikan wejangan agar mahasiswa STAI Sunan Pandanaran dapat menyerap dan memberikan pengaruh baik bagi lingkungannya, serta melek akan kebutuhan politik saat ini.

“Kondisi tidak adanya pemimpin satu hari saja itu lebih buruk daripada keberadaan pemimpin yang dzolim selama 40 tahun” artinya bahwa kewajiban adanya pemimpin di masyarakat itu sangat penting. Banyaknya doktrin agama yang menjadi label dalam memilih pemimpin merupakan masalah serius di negeri ini. Agama digunakan sebagai baju politik yang kemudian sewaktu-waktu akan dicopot tanpa ada tanggung jawab atau dapat diistilahkan “politik yang mengatasnamakan agama.” Ujar Bapak Sahok dengan semangat.

“Pesantren merupakan komponen terbesar dalam pembangunan di negeri ini. Merdekanya Bangsa Indonesia tidak pernah luput dari dukungan para ulama dan kyai yang berkontribusi melalui pesantren. Doktrin agama yang kental dan dipegang teguh dalam lingkungan pesantren memberikan dampak yang sangat luas. Salah satunya akan dikemas menjadi sedemikian rupa dalam berbagai bidang dan akan menuntun pada jalan yang lurus”. Lanjut beliau.

Begitupun tanggapan Bapak Ahmad Shidqi, beliau memaparkan bahwa tantangan lain terhadap pemilu salah satunya adalah media sosial. Penyebaran hoax sangat sulit untuk dihentikan, berbagai sumber saling tuding menuding, adu domba dan lain-lain. Sehingga banyak terjadi konfik di berbagai pihak. Namun di sisi lain media sosial juga memiliki dampak baik salah satunya dapat di jadikan tempat pemasaran produk- produk atau kalau dalam pemilu dapat digunakan sebagai media kampaye yang sangat praktis dan mudah dijangkau.

Adapun politik uang atau money politic yang masih sering kita jumpai juga menjadi problematika di negeri ini. Bayaknya jalan alternatif yang digunakan para kader- kader dan calon-calon pemimpin untuk memperoleh suara seringkali menjadikan kepemimpinan di negeri ini buruk. Mereka yang menggunakan politik uang akan berusaha mengembalikan modal awal yang mana ini akan memicu terjadinya korupsi.

Oleh karena itu kita sebagai rakyat harus ikut serta dan berpartisipasi untuk menyukseskan pemilu dengan memberikan suara terbaik dan telah melakukan penyaringan informasi- informasi serta bijak dalam mengambil keputusan. Tidak golput merupakan tindakan terbaik dan memilih calon pempimpin yang memiliki dampak negatif lebih sedikit dari calon pemimpin lainnya.

Berawal dari pemilu maka segala kebijakan-kebijakan pemerintah akan memberikan keadilan bagai seluruh rakyat. Karena pemimpin merupakan sebuah representasi dari rakyatnya. Maka dari itu mari kita sukseskan pemilu 2020. (LPM AKSARA)

Leave a Comment