Seminar Nasional Himpunan Mahasiswa Ilmu Tasawuf

Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Tasawuf STAI Sunan Pandanaran telah menyelenggarakan Seminar Nasional (9/12/2019) dengan tema “Menghadirkan  Tasawuf Di Tengah Ancaman Radikalisme”. Seminar yang dihadiri oleh Gus Ulil Abshar Abdalla, M.A (Cendikiawan Muda Muslim) dan Bapak Ade Supriyadi, M.A. (Dosen Ilmu Tasawuf STAI Sunan Pandanaran) ini dihadiri kurang lebih 150 peserta.

Dalam kesempatannya, Bapak Ade Supriyadi megutip perkataan Imam Malik “Barang siapa yang berfikih tapi dia tidak tasawuf berarti dia fasik, Barang siapa yang bertasawuf tapi dia tidak berfikih berarti dia zindiq. Dan barang siapa yang melakukan kedua-duanya maka dia berada di jalan yang benar.” Sehingga dalam beragama seseorang harus menghadirkan syariat dan tasawuf, tidak bisa hanya tasawuf saja dan tidak bisa hanya fikih saja, karena kedua-duanya saling berhubungan dan perlu dihadirkan agar memperoleh keseimbangan dalam beragama”, lanjut beliau dalam acara yang dimoderatori oleh Bapak Rifki Fairus, M.A. ini.

“Inti dari ajaran tasawuf adalah menyadari bahwa dzat maha sempurna hanyalah Allah SWT, dan selain Allah adalah tempat dosa yang penuh dengan kekurangan. Tasawuf adalah ruh semangat (esensi) yang tidak membutuhkan nama, karena orang yang masih dengan semangatnya mengejar label (nama) terhadap urusan duniawi itu artinya dia belum sampai pada tahap tasawuf”. Tutur beliau Gus Ulil.  Jangan mencari kesempurnaan, karena makhluk itu tempatnya kekurangan. Orang yang berkesadaran tinggi akhirnya menjadi tepa sliro, artinya bertoleransi terhadap orang lain dan tidak meminta orang lain untuk menjadi sempurna seolah olah jika tidak sempurna seperti dirinya dianggap menjadi orang tersesat dari jalan Tuhan”, pesan beliau Gus Ulil Cendekiawan muda muslim. (Sahabat LPM AKSARA)

Leave a Comment