Gebyar Wisuda Sarjana Periode Ke III dalam Ragam Nusantara

Yogyakarta, Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA) telah melangsungkan prosesi wisuda sarjana periode ke-III (28/09). STAISPA kembali meluluskan 47 wisudawan/wisudawati program sarjana, terdiri dari program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sejumlah 32 mahasiswa dan program studi Ilmu Tasawuf sejumlah 15 mahasiswa. Upacara wisuda berlangsung hikmat di Gedung STAISPA dengan dipimpin oleh Ketua Senat, Dr. K.H. Imaduddin Sukamta.

Dari sekian peserta wisudawan, tercacat Moh. Sabiq B.A dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IPK 3,70) dan Ilyas Fahmi Ramadlani dari Program Studi Ilmu Tasawuf (IPK 3,52) yang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Ilyas panggilan sapaannya, juga dipilih untuk menyampaikan sambutan sebagai perwakilan para wisudawan usai dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Dilanjutkan orasi Ilmiah disampaikan oleh Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA, Ph.D. upaya memberikan wejangan, motivasi dan menghidupkan jiwa para hadirin khususnya wisudawan/wisudawati dalam mengimplementasikan keilmuan dan memformulasikannya di kehidupan nyata.

“Mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang bisa dimana saja, artinya mereka mempunyai spekulasi dalam berbagai bidang dan mampu mengambil setiap peluang yang diberikan oleh pemerintahan seperti melengkapi beberapa kekurangan yang umumnya dimiliki oleh lembaga berbasis pesantren yakni matematika dan ilmu teknologi, dengan adanya ketetapan-ketetapan baru yang menyetarakan antara perguruan tinggi Islam dengan perguruan tinggi umum dalam mendapatkan peluang pekerjaan” tutur Prof. Yudian.

“Secara garis besar, konsep acara kali ini mengikuti orientasi keilmuan STAISPA dengan menunjukkan wajah Islam Nusantara. Hal ini direfleksikan dalam penataan dekorasi dengan model wayang, menampilkan lagu Gambang Suling yang mengiringi kreasi tari dari Sanggar Dewi Sartika bertujuan untuk mengangkat nilai kearifan lokal. Penampilan Paduan Suara Mahasiswa STAISPA tidak hanya membawakan lagu nasional, tetapi juga lagu daerah seperti Manuk Dadali dan Yamko Rambe Yamko” ungkap Rifki Fairuz, selaku ketua panitia.

Wisuda STAISPA memiliki icon yang tidak dimiliki oleh Universitas lain. Basis kepesantrenan yang mendominasi STAISPA telah mewujud dalam penampilan islami bernuansa Qur’ani, seperti pembacaan asma al-husna, hadrah dan pembacaan do’a khotmil Qur’an. “Untuk para wisudawan/wisudawati, carilah sebanyak mungkin pintu. Hidup itu selalu menawarkan pilihan untuk kalian, diharapkan kalian dapat menjelajahi banyak bidang.  Saya yakin santri itu merupakan entitas manusia yang adaptif, dimana aja bisa. Bukan berarti tidak jelas tetapi memiliki tingkat survival yang tinggi” ujar ketua panitia. (Melisa/Rizka/Alfi/Dea/red)

Leave a Comment