Berita

Bedah Buku Islam Kebudayan

Yogyakarta – Dalam rangka menyemarakkan Bulan Maulud, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAI Sunan Pandanaran menggelar acara bedah buku “Islam Berkebudayaan: Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan dan Kebangsaan“, Rabu malam (20/11). Acara yang yang dihelat di halaman kampus STAISPA tersebut menghadirkan beberapa narasumber diantaranya KH. M. Jadul Maula selaku penulis buku dan salah satu dosen STAISPA, Nur Kholik Ridwan, S. Ag., dengan terbungkus rapi dan dimoderatori oleh Rifqi Fairuz, M.A. (Dosen STAISPA). Acara yang dibuka dengan lantunan sholawat dari grup Hadrah PSQ Al-Mufidz dilanjutkan dengan semarak Keroncong Sholawat Kaliopak menambah gebyar acara pada malam tersebut.

Semangat untuk mempelajari Islam dan kebudayaan mengantarkan lebih dari 150 mahasiswa STAI Sunan Pandanaran khususnya, nampak pula dihadiri oleh DEMA IIQ An-Nur Bantul untuk bersama-sama menilik lebih dalam lagi buku Islam berkebudayan ini. Buku tersebut merupakan kumpulan dari tulisan KH. Jadul Maula yang berjumlah 16 artikel, tertulis sejak 1997 hingga 2019. Tulisan ini merupakan hasil penuangan dari buah pemikiran serta proses penelitian lapangan dengan topik yang berkaitan dengan kebudayaan.

KH. Nur Kholik Ridwan, S. Ag., dalam pengantarnya menjelaskan bahwa buku ini  tidak hanya berbicara tentang rekonsiliasi antara budaya dan islam, tetapi juga mengajak orang Jawa untuk mengerti sejatinya apa yang harus dilakukan. Beliau menggarisbawahi bahwa al-Qur’an telah menyediakan ruang untuk melihat kebudayaan, sehingga seharusnya tidak ada lagi wacana pertentangan antara budaya dan Islam. “Kita sebagai seorang santri dan muslim paling tidak harus menjadi muslim yang tidak kagetan. Dengan buku ini, kita belajar memaknai wayang dengan tidak tercabut dari akar kesantrian”, pesan beliau.

Sang Penulis, KH. M. Jadul Maula mengawali pemaparannya dengan esensi Islam berkebudayan. “Islam berkebudayaan sebetulnya tidak hanya diibaratkan seperti pesantren membuat acara dan didalamnya terdapat pentas seni atau berkesenian saja, lebih dari itu, Islam berkebudayaan merupakan sikap yang masuk dalam tatar kehidupan. Makna budaya sebenarnya merupakan perilaku yang lahir dari kesatuan antara cipta, rasa dan karsa, dengan tujuan menciptakan  kesejahteraan bangsa.”, terang beliau. Buku ini sekaligus menyikapi wacana yang sedang berkembang mengenai kaum yang kontra terhadap Islam Nusantara. Selanjutnya, beliau juga merasionalisasikan hubungan kesatuan antara  Islam dan budaya secara apik. (Melisa/DeaRiski/red)

Comment here