Kunjungan dari Konrad-Andenauer-Stiftung: Pesantren untuk Perdamaian Dunia

Rabu, 16 Januari 2018, Dr. Gerhard Wahlers (Kepala Kerjasama Internasional & Eropa serta Wakil Sekretaris Jenderal Konrad-Adenauer-Stiftung) sersama stafnya berkunjung ke Ponpes Sunan Pandanaran. Kunjungan ini bermaksud untuk membahas peran dan pengalaman Ponpes Sunan Pandanaran sebagai partner dalam program Pesantren for Peace & Kontra Narasi Ekstremis.

“Yayasan Konrad-Adenauer-Stiftung ialah yayasan yang berasal dari Jerman dan telah mendunia yang bekerja dalam bidang civil education. Yayasan ini telah memiliki kantor di 90 negara dan Indonesia termasuk yang spesial karena telah bekerjasama selama 50 tahun. Indonesia merupakan negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Inilah yang membuat Indonesia menjadi penting dalam membincang keberagaman dan perdamaian. Indonesia menjadi contoh bagaimana umat muslim bisa hidup berdampingan dengan umat lain. Upaya menuju perdamaian adalah cita-cita kita bersama. Toleransi dan perdamaian penting untuk membangun stabilitas global. Kami senang bertemu dan berkenalan dengan bapak-ibu serta adik-adik yang memiliki visi yang sama dalam menciptakan perdamaian ini. Pesantren for Piece merupakan salah satu program kami untuk mewujudkan hal tersebut.” Ujar Dr. Gerhard Wahlers dalam sambutannya.

Penyambutan yang bertempat di Gedung Hijau STAI Sunan Pandanaran ini berjalan interaktif mulai dari pembukaan, sambutan Dr. Gerhard Wahlers, perkenalan, diskusi aktif, hingga diakhiri dengan dialog santai sembari berkeliling Ponpes Sunan Pandanaran. Dalam sesi diskusi H. Jazilus Sakhok, Ph.D. selaku perwakilan pengasuh Ponpes Sunan Pandanaran menjelaskan tentang pentingnya pesantren dan bagaimana pesantren Sunan Pandanaran siap mendukung penuh visi perdamaian dan toleransi yang diusung.

“Pesantren kami dari awal telah ikut program Pesantren for Piece ini. Program ini menggali nilai pesantren yang sebenarnya, karena memang pesantren yang asli dari Indonesia itu damai dan mengajarkan perdamaian. Berbeda dengan pesantren-pesantren yang telah terhegemoni ideologi dari luar. Program ini berusaha menyebarkan ajaran pesantren ke masyarakat untuk menolak radikalisme. Oleh karena itu, kami mendukung penuh program ini untuk dilanjutkan agar nilai-nilai perdamaian dari pesantren dapat terus disebarluaskan”, kata Gus Sakhok, panggilan akrabnya.

Dalam kesempatan tersebut, M. Afiv Okjil Siphia, Ketua Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) STAI Sunan Pandanaran mengutarakan pendapatnya tentang generasi milenial yang lebih akrab dengan media-media digital. Menurutnya penting pula untuk mempertimbangkan perkembangan media digital yang diminati generasi muda dalam menggagas isu perdamaian dan toleransi.

“Sekarang pengaruh media digital sangatlah besar. Namun justru pihak-pihak yang berfaham konservatiflah yang menguasai kanal-kanal media digital tersebut. Ini mungkin yang perlu dielaborasi dan dipertimbangkan oleh pesantren. Karena para pemuda sekarang lebih banyak yang mencoba untuk memahami Islam secara praktis dengan cara mencari di media digital. Namun karena minimnya konten damai serta media dari pesantren akhirnya yang mereka temukan adalah media konservatif yang biasanya cenderung radikal dan ekstrimis.” Jelas Okjil Siphia. [Miftah & Rafli]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *