Berita

Kuliah Umum: Tafsir al-Qur’an di Tatar Sunda

 

Kuliah Umum: Tafsir al-Qur’an di Tatar Sundaitas sebagai kekayaan khazanah
yang dimiliki tafsir Nusantara.

“Keberagaman merupakan bagian yang dimiliki oleh Indonesia. Dari keberagaman
ini terdapat hal-hal unik yang dimiliki pada setiap lokal yang ada, semisal
dalam segi bahasanya. Kalau di Sunda ada bahasa mah atau aksen huruf p pada
saat pelafalan huruf f. Ini menjadi semacam bahasa rasa yang hanya bisa
dirasakan dan diresapi oleh orang-orang yang mengerti bahasa Sunda. Ada juga
beberapa kata yang memang tidak dapat ditransliterasi atau diterjemahkan ke
dalam bahasa lain dan hanya dimiliki oleh bahasa lokal saka. Disinilah
pentingnya memahami sense dari bahasa lokal. Jelas Putra sunda kelahiran 09
Juni 1976 ini dalam Seminarnya di Ruang Auditorium Gedung Hijau STAI Sunan
Pandanaran.
Beliau juga menjelaskan mengenai bahasa sebagai elemen dasar yang digunakan
dalam penafsiran. Dari bahasa sebuah tafsir bisa terlihat bagaimana konstruksi
sosial, konteks konflik, ataupun struktur masyarakat yang dibangun pada saat
sebuah karya tafsir muncul.
Lihatlah polemik yang terlihat dalam tafsir Malja at-Thalibin karya KH. Ahmad
Sanusi. Karya ini begitu menggambarkan bagaimana konflik yang terjadi antara
kaum tradisionalis (penafsir) dengan kaum modernis. Sedikit contoh yang Dr.
Jajang sampaikan.
Dalam sambutannya, Jazilus Sakhok, Pd.D. selaku wakil ketua I bidang akademik,
administrasi, dan kemahasiswaan STAISPA juga menyampaikan mengenai sense atau
rasa yang dimiliki dalam sebuah bahasa lokal.
Aspek kelokalan bahasa yang ada di Indonesia juga turut membentuk perilaku dan
bagaimana cara pandang dari sebuah wilayah. Penggunaan bahasa lokal turut
menjadi faktor pembentuk kehalusan karakter dan budi yang ada pada wilayah
tersebut.” Jelas Pakar Sejarah Islam di Indonesia dalam sambutannya.
Kuliah Umum bekerjasama dari beberapa pihak. Yakni prodi Ilmu Al-Quran dan
Tafsir, HMP IAT dan DEMA STAI Sunan Pandanaran. 

 

Comment here